Chandra Ekajaya Merasa Dunia Ini Aneh

Chandra Ekajaya Suka Candi
Candi Borobudur

Chandra Ekajaya membuka pidatonya. “Ehm, Hong wilaheng awignam asthu namas siddam.  Ia mengingatkan masyarakat akan tokoh Tjokroaminoto. Jikalau ia memakai baju adat Jawa yang berwibawa, pasti semua orang memang akan menyangkanya sebagai Tjokroaminoto, atau bahkan mungkin sebagai Tirto Adhi Soerjo.

Chandra Ekajaya kemudian berkata kepada masyarakat tentang misteri Indonesia.

Chandra Ekajaya berdiri dan berkata bahwa candi sebenarnya dibaca “syandi”. Sehingga ia menyimpulkan bahwa candi, syandi, adalah kode.

 

Chandra Ekajaya Bongkar Misteri Candi
Candi Prambanan

 

Chandra Ekajaya meneruskan ucapannya. Ia mengatakan bahwa leluhur membuat candi dengan cara-cara sederhana dalam kisah di kethoprak. Bahan perekatnya pun dari putih telur.

Chandra Ekajaya saja menjelaskan kepada para masyarakat bahwa batu-batu yang digunakan untuk menyusun candi sangatlah keras. Kemudian ia menjelaskan tentang hasil sebuah penelitian.

Penelitian tersebut mengatakan bahwa batu yang digunakan untuk menyusun candi bisa diubah menjadi lunak dengan menggunakan bahan kimia. Semua penuh dengan misteri dan pertanyaan. Karena itu ia berusaha menjadi seorang peneliti yang meneruskan segala macam pertanyaan dari masyarakat.

Kini Chandra Ekajaya sangat ingin menjelaskan kepada masyarakat yang terdiri dari berbagai macam latar belakang. Ada pertanyaan yang baru setiap ia mengajukan pertanyaan. Misalnya saja tentang bahan kimia tersebut.

Apakah leluhur kita sudah dapat untuk menciptakan ramuan kimia seperti yang diujicobakan tersebut? Ataukah mungkin saja, leluhur kita menggunakan teknologi laser untuk memotong dan membuat relief di candi-candi?” tanya Chandra Ekajaya.

 

Chandra Ekajaya Suka Candi
Candi Borobudur

 

Hal seperti inilah yang sering membuat sangka. Bila orang Jawa membuat hal-hal yang tidak masuk adal, dalam arti teknologi yang sangat maju banyak orang atau masyarakat yang tidak percaya. Artinya mereka tidak percaya diri dan minder.

Chandra Ekajaya menambahkan peristiwa dan fenomena saat terjadi gempa bumi di Yogyakarta pada bulan Mei 2006, candi Prambanan runtuh sebagian. Dari reruntuhan-reruntuhan tersebut para peneliti baru sadar dan tahu serta mengerti, bahwasanya dan ternyata candi-candi di Nuswantara sudah memakai teknologi fragtal. Padahal untuk teori fragtal baru dua dekade yang lalu ditemukan. Tepatnya pada tahun 2000-an.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*