Yohanes Chandra Ekajaya Perkembangan Cosplay Indonesia

Yohanes Chandra Ekajaya Ikut Cosplay
Cosplay Keren
Yohanes Chandra Ekajaya Suka Naruto
Cosplay Naruto

Cosplay yang bukan merupakan budaya asli Indonesia ini memiliki latar budaya yang berbeda di Barat (Amerika dan Eropa) dan Jepang. Di Amerika, praktik yang kini disebut cosplay populer terlebih dahulu dengan istilah costuming, sementara di Jepang, cosplay muncul sebagai istilah pada 1984 setelah seorang warga Jepang mempraktikkannya, memperhatikan fenomena costuming yang ada di Los Angeles, Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, cosplay menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan fandom (basis komunitas) dari suatu produk kreatif (animasi, komik, game, dsb.)

 

Yohanes Chandra Ekajaya mencoba mengeksplorasi secara semi-akademis bagaimana fandom kebudayaan anime di Indonesia muncul dan tumbuh dalam komunitas yang memiliki struktur dan bentuk yang konkrit secara nyata. Dalam acara yang dihadiri oleh pelaku, pengamat, serta akademisi ini, diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan dan menaruh minat akan fandom kebudayaan anime di Indonesia bisa menjadikannya sebagai referensi dan pembelajaran sesuai dengan bidangnya.

 

Dalam tulisan kali ini, Yohanes Chandra Ekajaya akan dibahas mengenai beberapa hal seperti cosplay sebagai sebuah aktivitas, cosplay dan hubungan interpersonal (keluarga, masyarakat), cosplay di Indonesia, tren dalam cosplay (trap, berhijab, original chara), serta fenomena cosplay karakter lokal Indonesia. Tidak ketinggalan pula akan dibahas sejumlah kontroversi dalam media sosial di Indonesia.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Fans Dragon Ball
Cosplay Dragon Ball Z

 

“Masyarakat kita gampang kena provokasi, contohnya pas kasus Miku (busana seksi – Red) atau malah kebalikannya (cosplay berhijab – Red.) cuma kenapa itu dijadikan perkara, saya mau tahu.” Kata Yohanes Chandra Ekajaya.

 

Yohanes Chandra Ekajaya melihat cosplay di Indonesia sudah semakin merakyat, sudah go international, dan menjadi fenomena penting dalam perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

 

“Sekarang sulit menemukan acara jejepangan tanpa cosplay. Seiring jumlahnya yang meningkat, kualitasnya pun meningkat dan cosplayer kita bisa berkompetisi dalam kegiatan skala internasional seperti WCS. Tapi selain cosplay karakter luar, yang makin menarik justru saat karakter lokal kita sudah banyak cosplaynya.” Ungkap Yohanes Chandra Ekajaya.

 

Walaupun cosplay itu merupakan sebuah kebudayaan yang lahir dari basis komunitas di luar Indonesia akan tetapi sekarang sudah mulai berkembang dan menjamur di Indonesia. Dengan tumbuhnya komunitas-komunitas cosplay ini semoga dapat menambah kreatifitas para pemuda dan bahkan bisa mengkombinasikannya dengan budaya asli Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*